Selasa, 07 Februari 2012

pengertian pelangi

Pelangi




Pelangi atau bianglala adalah gejala optik dan meteorologi berupa cahaya beraneka warna saling sejajar yang tampak di langit atau medium lainnya. Di langit, pelangi tampak sebagai busur cahaya dengan ujungnya mengarah pada horizon pada suatu saat hujan ringan. Pelangi juga dapat dilihat di sekitar air terjun yang deras.
Pembentukan
Cahaya matahari adalah cahaya polikromatik (terdiri dari banyak warna). Warna putih cahaya matahari sebenarnya adalah gabungan dari berbagai cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Mata manusia sanggup mencerap paling tidak tujuh warna yang dikandung cahaya matahari, yang akan terlihat pada pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.
Panjang gelombang cahaya ini membentuk pita garis-garis paralel, tiap warna bernuansa dengan warna di sebelahnya. Pita ini disebut spektrum. Di dalam spektrum, garis merah selalu berada pada salah satu sisi dan biru serta ungu di sisi lain, dan ini ditentukan oleh perbedaan panjang gelombang.
Pelangi tidak lain adalah busur spektrum besar yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air. Ketika cahaya matahari melewati butiran air, ia membias seperti ketika melalui prisma kaca. Jadi di dalam tetesan air, kita sudah mendapatkan warna yang berbeda memanjang dari satu sisi ke sisi tetesan air lainnya. Beberapa dari cahaya berwarna ini kemudian dipantulkan dari sisi yang jauh pada tetesan air, kembali dan keluar lagi dari tetesan air.
Cahaya keluar kembali dari tetesan air ke arah yang berbeda, tergantung pada warnanya. Warna-warna pada pelangi ini tersusun dengan merah di paling atas dan ungu di paling bawah pelangi.
Pelangi hanya dapat dilihat saat hujan bersamaan dengan matahari bersinar, tapi dari sisi yang berlawanan dengan si pengamat. Posisi si pengamat harus berada di antara matahari dan tetesan air dengan matahari dibekalang orang tersebut. Matahari, mata si pengamat dan pusat busur pelangi harus berada dalam satu garis lurus.
Tanggal: senin,6 februari 2012
Jam: 06:30




Sejarah teori Pelangi

Pelangi Pertama Kali Didefinisikan Aristoteles


Pelangi buat anak kecil adalah hiasan langit yang sangat menawan. Pelangi yang berwarna-warni juga menjadi judul lagu di banyak negara, termasuk Indonesia. Fenomena pelangi sudah tercipta sejak alam ini ada. Munculnya tidak menentu, namun bisa diperkirakan dan dipetakan posisinya. Benda-benda langit yang menjadi prasarat hadirnya pelangi pun bisa dirinci.

Asal mulanya, pelangi tidak bisa didefinisikan secara jelas. Sebagian orang di masa lalu menganggap bahwa pelangi itu berbentuk nyata dan berada di tempat tertentu. Sebagian lain bahkan mengaitkan munculnya pelangi dengan tanda bakal terjadinya peristiwa tertentu. Pihak yang optimis menafsirkannya sebagai pertanda baik, dan yang pesimis menganggapnya sebagai pertanda buruk.

Secara ilmiah, pelangi baru mulai didefinisikan pada masa kehidupan Aristoteles. Dialah orang yang pertama kali menjelaskan secara ilmiah fenomena pelangi. Menurut situs datalyse.dk, di masa hidupnya (384-322 tahun sebelum masehi) Aristoteles menyebutkan bahwa pelangi adalah refleksi cahaya matahari yang dipantulkan awan.

Saat itu, Aristoteles sudah menyebutkan bahwa untuk melahirkan pelangi, pantulan cahaya matahari ini memerlukan sudut tertentu. Dia juga mengungkapkan bahwa pelangi sebenarnya tidaklah berada di tempat tertentu, tapi hanya bisa diketahui posisi sudutnya di langit.

Definisi pelangi Aristoteles ini kemudian disempurnakan oleh Alexander dari Aphrodisias. Pada tahun 200 masehi, dia menemukan perbedaan warna langit yang di dalam lengkung pelangi, dan di luar lengkung pelangi. Menurut dia, langit di dalam lengkung lebih gelap dibanding yang di luar lengkung. Wilayah langit yang gelap ini pun kemudian dinamai Lingkaran Gelap Alexander.

Penjelasan soal pelangi pun disempurnakan lagi oleh Roger Bacon pada tahun 1266. Dia sebutkan bahwa posisi pelangi berada di sudut 42 derajat. Di tahun 1304 seorang pendeta dari Jerman, Theodore Freiberg meyakini bahwa setiap hujan di awan punya pelangi sendiri. Dia buktikan hipotesisnya ini dengan pantulan cahaya matahari saat terjadi pelangi di botol melingkar.

Di tahun 1666, ahli fisika Newton membuat definisi tentang pelangi menjadi lebih lengkap. Dia pahami perbedaan warna pelangi terjadi karena perbedaan panjang gelombang cahaya matahari yang dipantulkan oleh awan. Dia juga berhasil menemukan ukuran ketebalan pelangi, yakni 2 derajat 15 menit.

Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa ilmuwan kemudian menyebut soal angka busur pelangi. Konsep ini tidak bisa dijelaskan oleh temuan Newton. Pada tahun 1803 Thomas Young menunjukkan bahwa gelombang yang berasal dari dua sumber gelombang menghasilkan perbedaan terang dan gelap di sekitar pelangi.

Penelitian maupun penjelasan soal pelangi pun terus berkembang. Pada tahun 1815, David Brewster mengungkapkan bahwa pantulan cahaya matahari yang menghasilan pelangi itu sepenuhnya terpolarisasi. Karena itu, warna pelangi bisa tetap terlihat dengan sepasang kaca mata yang lensanya polaroid.

(sumber Asalmulane : http://www.asalmulane.com/2012/02/pelangi-pertama-kali-dibahas-oleh.html)
Tanggal: senin,6 februari 2012
Jam: 07:10


9 Jenis Pelangi di Angkasa

Pelangi adalah gejala optik dan meteorologi berupa cahaya beraneka warna saling sejajar yang tampak di langit atau medium lainnya. Di langit, pelangi tampak sebagai busur cahaya dengan ujungnya mengarah pada horizon pada saat hujan ringan. Pelangi juga dapat dilihat di sekitar air terjun yang deras.
1. Classic Rainbows
Pelangi Alam terdiri dari enam warna: merah, oranye, kuning, hijau, biru dan ungu. Intensitas warna masing-masingnya tergantung berbagai kondisi atmosfer dan waktu.
2. Circular Rainbows
Pelangi ini benar-benar terlihat seperti busur lingkaran sempurna (dengan radius tepat 42 derajat, menurut Descartes).
3. Secondary Rainbows 
Pelangi primer, sering disertai dengan pelangi sekunder biasanya tipis dan redup daripada pelangi primer. Pelangi sekunder terkenal dengan karakteristik tertentu, spektrum ditampilkan dalam urutan terbalik dari sebuah pelangi primer.

4. Red Rainbows
Red Rainbows biasanya terlihat saat fajar atau senja ketika ketebalan filter atmosfir bumi menjadi biru, terlihat lebih merah atau seperti tetesan cahaya oranye mencerminkan dan membiaskan air. Hasilnya adalah pelangi dengan spektrum ujung merah.


5. Sundogs




Yang paling sering terlihat rendah di langit di hari musim dingin yang cerah, sundogs terjadi ketika matahari bersinar melalui kristal es yang tinggi di atmosfer. Sundogs berwarna merah di bagian dalam dan ungu di bagian luar dengan sisa spektrum ramai di antaranya. Semakin tebal konsentrasi kristal es di udara, semakin tebal pula strukturnya.

6. Fogbows
Fogbows lebih jarang terlihat daripada pelangi biasa, karena parameter tertentu yang harus disesuaikan untuk menciptakan mereka. Misalnya, sumber cahaya harus berada di belakang pengamat dan membumi. Juga, kabut di belakang pengamat harus sangat tipis sehingga sinar matahari yang dapat bersinar melalui kabut tebal di depan.

7. Waterfall Rainbows


Kabut air terjun bercampur ke dalam aliran udara konstan atmosfer terus menerus, terlepas dari cuaca. Hal ini membuat sebuah foto air terjun yang sangat baik untuk pelangi.

8. Fire Rainbows

Pelangi ini bukan terbuat dari api, nama untuk efek optik yang indah ini adalah “circumhorizontal arc”. Fenomena ini hanya dapat dilihat dalam kondisi spesifik tertentu: awan cirrus, yang bertindak seperti prisma harus setidaknya berada di ketinggian 20.000 kaki dan matahari harus menyorot ketika mereka berada di ketinggian 58-68 derajat. Rainbow Fire tidak pernah terlihat di lokasi lebih dari 55 derajat utara atau selatan.

9. Moonbows
Moonbows adalah mitra untuk pelangi lunar. Mereka juga jauh lebih sulit dilihat karena badai hujan harus berlalu dan, idealnya, bulan purnama yang terang tidak terhalang oleh awan.






Tanggal: senin,6 februari 2012
Jam: 07:40

1 komentar:

Total Tayangan Halaman